Dolar Masih Menguat Terhadap Yen Menjelang Pelantikan Trump

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) - Dolar AS masih menguat terhadap yen pada penutupan perdagangan Jumat (17/1/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (18/1/2025) WIB. Namun, dolar akhirnya menutup pekan dengan...

Dolar Masih Menguat Terhadap Yen Menjelang Pelantikan Trump
Bacakan Artikel

STOCKWATCH.ID Kalcernomic STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) - Dolar AS masih menguat terhadap yen pada penutupan perdagangan Jumat (17/1/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (18/1/2025) WIB. Namun, dolar akhirnya menutup pekan dengan penurunan setelah enam minggu berturut-turut menguat. Para investor kini menunggu pelantikan Donald Trump sebagai Presiden dan penjelasan mengenai kebijakan pemerintahan yang akan datang.

Mengutip CNBC International, yen menguat lebih dari 1% terhadap dolar minggu ini, berbalik dari penurunan minggu lalu. Yen bahkan sempat mencapai level tertinggi dalam sebulan di angka 154,98 per dolar pada Jumat pagi. Pada akhir perdagangan, dolar AS tercatat menguat 0,68% menjadi 156,165 yen. Namun, Brad Bechtel, kepala global FX di Jefferies, mengatakan bahwa pergerakan ini tidak akan signifikan mengingat selisih suku bunga yang masih sangat lebar antara Jepang dan AS. “Yen akan tetap terikat dengan suku bunga AS,” kata Bechtel.

Penurunan minggu ini dianggap sedikit meringankan tekanan pada pasangan dolar-yen. “Bank of Japan (BOJ) tampaknya siap untuk menaikkan suku bunga minggu depan, yang akan mendukung yen. Namun, dengan selisih suku bunga yang masih lebar, sulit bagi pasangan dolar-yen untuk bergerak turun secara signifikan,” tambah Bechtel.

Harapan akan kenaikan suku bunga BOJ semakin kuat setelah komentar dari pejabat bank sentral Jepang dan data ekonomi yang menunjukkan adanya tekanan harga yang terus-menerus serta pertumbuhan upah yang kuat. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 80% BOJ akan menaikkan suku bunga minggu depan, kecuali ada kejutan pasar setelah pelantikan Trump.

Dolar AS mengalami lonjakan dalam beberapa minggu terakhir, didorong oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan Trump yang diperkirakan dapat mendorong inflasi di tengah ekonomi AS yang sudah kuat. Namun, pasar obligasi sedikit mendapat kelegaan setelah data inflasi inti AS yang lebih rendah dari perkiraan pada Rabu lalu. Komentar dari Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang mengatakan bahwa kemungkinan ada tiga atau empat pemotongan suku bunga tahun ini jika data mendukung, turut menambah spekulasi pasar akan pemotongan suku bunga lebih lanjut.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: