Terungkap, 68% CIO Perbankan Indonesia Belum Lirik Strategi Build dalam Membangun Platform Perbankan
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Backbase, perusahaan global di bidang Engagement Banking bekerjasama dengan IDC merilis laporan Infobrief yang berfokus pada wilayah Asia Pasifik (APAC). Berdasarkan laporsan...
IDC Infobrief menyoroti adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara pihak perbankan dan nasabahnya, dimana sebagian besar produk dan penawaran perbankan masih dianggap serupa dan terbatas. Berdasarkan data yang diambil dari Infobrief tersebut, perbankan dengan ukuran menengah dan besar di Indonesia dikategorikan ke dalam kategori bank di kuadran Watchers (pengamat), serupa dengan bank-bank di Vietnam dan Hong Kong.
Namun, perkembangan transformasi digital di Indonesia dinilai lebih lambat dibandingkan dengan dua negara lainnya dalam kategori ini. Menurut laporan tersebut, negara-negara di dalam kategori ini dianggap memiliki anggaran untuk dibelanjakan, tetapi masih membutuhkan bantuan untuk menentukan fokus pengeluaran dana untuk keperluan digital. Para nasabah menghadapi tantangan dalam mengakses berbagai layanan melalui antarmuka yang beragam, kurangnya kesatuan tampilan portofolio mereka, dan harus menjalani proses pengenalan yang panjang.
Permintaan untuk memperoleh persetujuan secara instan dan proses digital yang efisien masih belum terpenuhi, sementara pengalaman yang dipersonalisasi, segmentasi, dan promosi yang relevan berdasarkan pada kebutuhan gaya hidup, pengalaman pribadi, dan target nasabah terus luput dari perhatian para perbankan.
Selain itu, operasi backend pun menjadi terganggu akibat kurangnya bantuan canggih di bagian pusat layanan, sehingga nasabah seringkali diminta untuk berulang kali menyampaikan informasi kepada petugas layanan yang berbeda karena tidak adanya layanan pelanggan yang menyeluruh. Hal ini terjadi karena perbankan berfokus pada penggunaan sumber daya yang besar untuk mengembangkan platform perbankan, alih-alih memprioritaskan penyediaan layanan dan pengalaman nasabah yang beragam.
"Lebih dari 150 bank modern dan berorientasi masa depan telah mengadopsi dan mengembangkan Platform Engagement Banking Backbase untuk mempercepat visi go-to-market mereka dan memprioritaskan inovasi interaksi dan pengalaman pelanggan digital yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Platform yang sempurna harus memenuhi semua persyaratan, mulai dari kesesuaian dengan pasar, keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi, serta bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan untuk mendukung kebutuhan nasabah yang beragam di setiap bank. Platform ini bagaikan sebuah struktur yang dapat disusun serta mampu menghadirkan fungsionalitas dan data yang dapat digunakan kembali oleh perbankan untuk membantu mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan," lanjut Dutta.
Pergeseran Pola Pikir: Menerapkan pola pikir "Adopt and Build" untuk Mempercepat Pertumbuhan
- Pantai Indah Kapuk Dua (PIK2) Pusat Ekonomi Baru, Laba Meningkat di Kuartal I 20...
- Cadangan Devisa pada Akhir Mei 2026 Tercatat US$144,9 Miliar, Turun 0,89%
- Diversifikasi Bisnis, Akasha Wira (ADES) Siap Produksi Permen Jelly, Investasi R...
- Buat Lunasi Utang, Tower Bersama (TBIG) Siap Rilis Surat Utang US$900 Juta
- Alfamart (AMRT) Tebar Dividen Jumbo Rp1,7 Triliun, Investor Kantongi Rp41,5 per...
- Pendapatan Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) Turun 42,2% di Kuartal I 2026, Ini Pe...
- BRI Perpanjang Promo KPR Solusi hingga Juni 2026, Bunga Mulai 2,50% dan Tenor Sa...
- BUMA Internasional Grup (DOID) Catat Pendapatan US$318 Juta, Rugi Turun 66% di K...
- Pantai Indah Kapuk Dua (PIK2) Pusat Ekonomi Baru, Laba Meningkat di Kuartal I 20...
- Cadangan Devisa pada Akhir Mei 2026 Tercatat US$144,9 Miliar, Turun 0,89%