Danamon, Simak 7 Poin Penting Arah dan Prospek Makro Ekonomi Indonesia 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) senantiasa berkomitmen untuk menghadapi tantangan di industri finansial dengan terus menyediakan produk dan layanan keuangan untuk men...

Danamon, Simak 7 Poin Penting Arah dan Prospek Makro Ekonomi Indonesia 2026
Bacakan Artikel

STOCKWATCH.ID Kalcernomic STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) senantiasa berkomitmen untuk menghadapi tantangan di industri finansial dengan terus menyediakan produk dan layanan keuangan untuk mendukung perencanaan serta pengelolaan keuangan di tengah perubahan lanskap ekonomi yang terus berkembang. Hal itu dikemukakan, Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Danamon dalam acara Journalist Class, di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Dalam acara tersebut, Hosianna memaparkan kinerja makroekonomi Indonesia serta arah dan prospek di tahun 2026. Ada tujuh poin penting yang perlu dicermati menjelang akhir tahun ini hingga tahun 2026.

Pertama, trend suku bunga. Pasar keuangan saat ini mengantisipasi penurunan suku bunga The Fed sekitar 25 bps (0,25%) hingga akhir tahun ini. ย Efek jangka pendeknya terasa di SOFR yang terus melandai dan Quantitative Tightening yang resmi dihentikan oleh The Fed per 01 Desember 2025.

Implikasinya, hal ini mendukung potensi penurunan biaya pendanaan global dan memperkuat transmisi kebijakan di pasar negara berkembang maupun emerging markets (Ems) seperti Indonesia (selama inflasi tetap terkendali pada rentang target Bank Indonesia).

Kedua, dinamika pasar valuta asing dan Rupiah. Sejak Oktober 2025, BI menjaga stabilitas rupiah dengan menahan suku bunga di 4,75% setelah melakukan pelonggaran sebesar 125 bps pada tahun 2025, dengan ekspansi likuiditas yang tercermin dari penurunan INDONIA (4%) dan imbal hasil SRBI (sekitar 4,85%) per pertengahan November 2025. Imbal hasil obligasi pemerintah juga mencatatkan penurunan yang signifikan sejak awal tahun, tercatat saat ini untuk tenor 2 tahun di 4,8% dan tenor 10 tahun di 6,2%.

Namun, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 bps, dari 4,81% di awal 2025 menjadi 4,25% pada Oktober 2025, disebabkan oleh tingginya pengenaan suku bunga khusus yang ditawarkan kepada deposan besar, hingga 27% dari total simpanan per Oktober 2025. Pada saat yang sama, suku bunga kredit hanya turun 20 bps, dari 9,20% di awal tahun menjadi 9,00%, menegaskan lambatnya transmisi pelonggaran moneter ke biaya kredit.

Sedangkan, arus dana asing (foreign flow) menunjukkan tren perbaikan, tercermin dari pergerakan harga saham domestik (IHSG) yang kembali menguat. Sementara itu, perkembangan kurva imbal hasil obligasi Indonesia berada pada kondisi steepening seiring dengan reli yang lebih kuat di obligasi tenor jangka pendek.

Hingga awal November 2025, rupiah terus mengalami pelemahan terhadap USD dan mata uang lainnya. Adapun, per 6 November, performanya terhadap USD menurun di angka 3,66%. Pergerakan USD/IDR diproyeksikan bergerak di kisaran 16.500โ€“16.700.

Ketiga, sektor potensial di Indonesia. Di tengah tantangan yang ada, terdapat beberapa sektor dengan daya tahan yang masih terjaga berkat masifnya pertumbuhan e-commerce serta normalisasi sektor pariwisata, seperti transportasi, F&B, Information & Communication Technology (ICT), dan Business services.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: