Ketahanan Ekonomi RI Diuji Geopolitik 2026, Begini Proyeksi PEFINDO dan S&P

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) bersama S&P Global Ratings menggelar seminar Annual Indonesia Credit Spotlight ke-4 di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (20/5/2026). Acar...

Ketahanan Ekonomi RI Diuji Geopolitik 2026, Begini Proyeksi PEFINDO dan S&P
Bacakan Artikel

“Kami berpendapat bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” jelas Louis.

Transformasi BUMN menjadi bahasan hangat dalam sesi Fireside Chat bersama Managing Director Finance Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Bapak Arief Budiman. Arief memaparkan strategi optimalisasi peran BUMN terhadap ekonomi nasional.

Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Ker Liang Chan menilai BUMN Indonesia tetap tangguh pada 2026. Hal ini didorong oleh konsolidasi dan inisiatif efisiensi di bawah kendali Danantara.

Pemerintah kini lebih fokus pada pelaksanaan dan profitabilitas jangka panjang. “Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan kualitas kredit di seluruh sektor BUMN,” ungkap Liang Chan.

Sektor perbankan juga menjadi sorotan dalam diskusi panel. Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings, Ivan Tan menyebut eksposur langsung bank Indonesia ke Timur Tengah masih terbatas.

Namun, skenario terburuk dari gangguan energi dapat menaikkan kerugian kredit. “Kami memperkirakan kerugian tambahan sebesar 35 basis poin pada tahun 2026–2027, sehingga total biaya kredit mencapai sekitar 100 basis poin,” papar Ivan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: