Ketahanan Ekonomi RI Diuji Geopolitik 2026, Begini Proyeksi PEFINDO dan S&P

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) bersama S&P Global Ratings menggelar seminar Annual Indonesia Credit Spotlight ke-4 di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (20/5/2026). Acar...

Ketahanan Ekonomi RI Diuji Geopolitik 2026, Begini Proyeksi PEFINDO dan S&P
Bacakan Artikel

STOCKWATCH.ID Kalcernomic STOCKWATCH.ID (JAKARTA)PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) bersama S&P Global Ratings menggelar seminar Annual Indonesia Credit Spotlight ke-4 di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (20/5/2026). Acara bertajuk “Menghadapi Tantangan Geopolitik dan Ketahanan Domestik” ini membedah strategi ekonomi nasional menghadapi ketidakpastian global.

Direktur Utama PEFINDO, Irmawati Amran membuka pertemuan yang dihadiri para pemangku kepentingan industri keuangan tersebut. Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Bapak Juda Agung turut hadir memberikan pidato kunci mengenai arah kebijakan pemerintah.

Chief Economist Asia Pacific S&P Global Ratings, Louis Kuijs menyoroti konflik Timur Tengah yang memicu tekanan harga energi. Situasi ini meningkatkan biaya hidup dan mengikis daya beli masyarakat secara global.

Lonjakan harga energi menyebabkan perubahan sikap bank sentral dunia. “Kami sekarang memperkirakan Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada tahun 2026,” ujar Louis.

Meski ekonomi Asia-Pasifik diperkirakan stabil, gangguan pasar energi yang panjang menjadi risiko utama bagi wilayah Asia Selatan dan Tenggara. Namun, Louis optimistis pertumbuhan Indonesia tetap solid pada 2026 didukung langkah kebijakan pemerintah.

Risiko utama justru datang dari penurunan permintaan mitra dagang besar seperti Tiongkok, AS, dan India. Selain itu, nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi akibat arus modal keluar.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: